Sabtu, 26 September 2009

Surat Umar bin Khottob buat Sungai Nil

Oleh : Muhammad Amin/Nurul Hayat/Cermin

Kali ini kita akan menjadikan kisah surat Amirul Mu’minin Umar bin Khottob yang dikirim untuk sungai Nil di Mesir sebagai cermin untuk introspeksi diri. Siapapun akan mendapatkan pelajaran dan hikmah dari kisah ini sepanjang mau membuka mata hati dan akal pikiran dengan jernih.
Waktu Amru bin Ash menjadi Gubernur Mesir, penduduknya datang kepadanya saat memasuki bulan Bu’nah (kalender koptik Mesir). Mereka berkata,” Wahai Gubernur, sesungguhnya sungai Nil kami ini punya kebiasaan. Ia tidak mengalirkan air kecuali dengan kebiasaan itu.”
Amru bertanya,” Kebiasaan apa itu?”
Mereka menjawab,” Pada malam kedua belas di bulan ini, kami mengambil seorang gadis yang hidup diantara kedua orang tuanya. Lalu kami bujuk kedua orang tuanya agar merelakan anak gadisnya. Setelah itu kami dandani anak gadis itu dengan perhiasan dan pakaian terbaik, kemudian kami melemparkannya ke sungai Nil.”
Amru bin Ash berkata,” Sesungguhnya ini tidak boleh dalam Islam, Islam menghancurkan tradisi sebelumnya.”
Akhirnya penduduk Mesir melewati bulan Bu’nah, Adip dan Misrah, sedang sungai Nil tidak sedikitpun mengalirkan air sehingga mereka berniat meninggalkan Mesir. Melihat kejadian itu Amru bin Ash menulis surat buat Umar bin Khottob mengabarkan tentang hal itu.
Umar membalas suratnya,” Engkau benar, sesungguhnya Islam menghancurkan tradisi yang sebelumnya. Aku kirimkan sepucuk surat ini kepadamu. Jika suratku sudah engkau terima, lemparkanlah surat ini kedalam sungai Nil. Sesampainya surat di tangan Amru, dia membukanya. Di dalamnya tertulis,” Dari hamba Alloh Umar Amirul Mu’minin kepada sungai Nil di Mesir. Amma ba’du. Jika kamu mengalir dengan kehendakmu sendiri, maka kamu tidak usah mengalir. Namun jika Alloh yang Maha Esa dan Maha Kuasa yang mengalirkanmu, kami mohon kepada Alloh yang Maha Esa dan Maha Kuasa agar Dia mengalirkanmu.”
Amru melemparkan surat itu ke dalam sungai Nil. Pada saat itu penduduk Mesir tengah siap-siap untuk meninggalkan Mesir karena maslahat hidup mereka tidak tegak tanpa aliran air sungai Nil. Subahanalloh Allohu Akbar. Pada pagi harinya Alloh telah mengalirkan air sungai Nil setinggi enam belas hasta dan mengakhiri kebiasaan buruk itu dari penduduk Mesir. Alloh Maha Kuasa lagi Maha Perkasa. Bumi dan Langit beserta segala isinya tunduk kepada-Nya.
Ada dua pelajaran penting yang bisa kita ambil dari kisah di atas untuk kehidupan kita saat ini. Pertama soal kebiasaan buruk dari penduduk Mesir saat itu. Yaitu berharap dan mengusahakan rezeki (air sungai) dengan cara batil. Dengan cara mengorbankan seorang gadis. Mereka meyakini bahwa hanya dengan cara (batil) seperti itu saja rezeki akan diperoleh.
Tentu manusia saat ini tidak mungkin melakukan perbuatan yang tidak rasional seperti itu dalam memperoleh rezeki. Tetapi dari sisi substansi perbuatan batilnya, tidak sedikit manusia modern yang berpikiran sama dengan penduduk Mesir tempo dulu. Yaitu mengira dan meyakini hanya dengan cara batil saja rezeki bisa diperoleh. Baju berbeda isi sama saja. Diantara mereka ini adalah para koruptor, tukang mark up harga, ahli kolusi, berdagang dengan mengurangi timbangan dan sejenisnya. Mereka ini tanpa menyadari berfikir seperti ini,” Tidak mungkin bisa hidup berkelimpahan harta jika tidak dengan jalan batil. Tidak mungkin Alloh memberi kekayaan yang berlimpah bila cara memilih jalan yang diridhoi-Nya. Astaghfirulloh.
Pelajaran yang kedua adalah Umar Ibnul Khottob mengajarkan kepada kita semua, bahwa segala sesuatu itu tunduk kepada kekuasaan dan keputusan-Nya. Umar berkata kepada sungai Nil,” Jika kamu mengalir dengan kehendakmu sendiri, maka kamu tidak usah mengalir. Jika Alloh yang Maha Esa dan Maha Kuasa yang mengalirkanmu, kami mohon kepada Alloh yang Maha Esa dan Maha Kuasa agar Dia Mengalirkanmu.” Dan sungai Nil tunduk kepada kekuasaan-Nya dengan mengalirkan airnya.
Semua diantara kita bisa mengambil pelajaran berharga dengan cara menerjemahkan saat berikhtiar menjemput rezeki. Rezeki dalam bentuk uang dan harta benda, semuanya tunduk kepada kekuasaan-Nya. Jika Alloh menghendaki uang atau harta benda sampai ditangan kita, maka tidak ada yang bisa menghalanginya. Sebaliknya jika Alloh menahannya, maka tidak ada yang bisa menyampaikan ke tangan kita.
Kalau kemudian ada yang bertanya,” Mengapa orang-orang yang mengambil rezeki-Nya dengan cara batil justru mudah mendapatkannya?” Jawabannya sederhana, mereka inilah orang-orang yang celaka. Karena kebatilan hati dan cara berfikirnya, maka dibukalah pintu-pintu kemudahan untuk memperoleh rezeki dengan cara batil. Mereka ini tidak menyadari bahwa sesungguhnya dirinya sedang dilulu. Yaitu diberi oleh-Nya dengan pemberian yang justru menjerumuskan. Uang dan harta benda yang mereka dapatkan tidak akan bermanfaat sedikitpun bagi dirinya. Baik untuk kehidupan dunianya dan terlebih untuk kehidupan akhirat kelak.
Saudaraku, kita memang butuh harta agar bisa hidup berkecukupan dan sejahtera. Tetapi kita jauh lebih membutuhkan keselamatan dan kasih sayang-Nya. Buat apa berlimpah harta jika harta menjadi bara api di tangan kita. Buat apa berkelimpahan harta, jika justru menggelapkan dan mengeraskan hati. Jika harta membuat hati terhijab dari-Nya. Membuat hati terhalang dari merasakan ketentraman yang hakiki. Kalau saja para hartawan yang kaya raya, yang diperoleh dengan cara batil tahu betapa luar biasanya kenikmatan, ketentraman dan kedamaian hati orang-orang yang memilih jalan taat kepada-Nya, pastilah mereka iri dan bersedia membeli dengan harga berapapun.
Rasanya ingin kita katakan kepada saudara-saudara kita yang saat ini memilih mengambil rezeki-Nya dengan cara batil. ” Apakah engkau mengira bahwa Alloh itu bakhil? Tidak akan memberimu kelimpahan rezeki jika memilih cara-cara yang diridhoi-Nya? Mengapa engkau tidak memikirkan penciptaan dirimu sendiri? Dahulu engkau tidak ada dan tidak meminta apapun kepada-Nya. Tetapi Alloh menciptakanmu dan melimpahimu segenap karunia dan kasih sayang-Nya. Engkau dikaruniai kesempurnaan jasmani dan ruhani. Diberi oleh-Nya hati dan akal pikiran. Jika engkau tidak meminta, Alloh memberi. Lalu apakah jika engkau meminta Alloh tidak akan memberimu?”
Saudaraku, uang dan harta benda itu sama dengan sungai Nil. Yaitu sama-sama tunduk kepada kekuasaan-Nya. Maka dikala kita membutuhkannya, minta saja kepada penguasanya, yaitu Alloh SWT. Bukankah Alloh telah berfirman,” Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS : Al Baqoroh (2) : 186). Sudahkah kita memenuhi seruan dalam ayat ini? Wallohu a’lam bisshowab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar