Sabtu, 26 September 2009

Masuki Hari dengan Syukur

Oleh : Bambang Heri/Nurul Hayat/Nuansa Qolbu

Langkah awal menentukan langkah selanjutnya. Bagaimana kita tadi pagi masuk di kehidupan hari ini, sangat mempengaruhi seperti apa kehidupan kita sepanjang hari. Bila kita memasuki hari ini berkalut dengan setumpuk persoalan, lantas sejak bangun pagi tadi muka kita menjadi masam dan kusut masai, maka boleh jadi sepanjang hari ini pikiran kita akan membawa kita pada kondisi yang serba tidak nyaman. Terlalu sempit menghadapi berbagai macam persoalan. Mudah tersinggung, gampang marah, stres, putus asa dan merasa kehabisan tenaga.
Bagaimana kita memulai hidup hari ini, keputusan itu ada di tangan kita sepenuhnya. Oleh karenanya jangan salah memasuki pintunya.
Ketahuilah, akhlak seorang Muslim adalah senantiasa memasuki harinya melalui pintu syukur. Adalah Rosululloh mengajarkan kepada kita lantunan-lantunan doa pagi hari dengan bernuansakan syukur. Setiap pagi beliau dengan kelapangan jiwa mengucapkan doa yang begitu indah, “Ya Alloh, segala kenikmatan yang sudah sejak pagi membersamaiku, atau bersama salah seorang dari makhluk-Mu, adalah dari-Mu semata; tiada sekutu bagi-Mu. Maka bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu rasa syukur” (HR. Abu Dawud- teks arab serta doa-doa pagi hari lainnya lihat rubrik Fadhilah Amal, pen)
Ungkapan syukur setiap memulai kehidupan adalah akhlak seorang hamba kepada Rabb yang menciptakannya. Yang menghidupkannya setelah matinya. Yang membuatnya tetap islam diantara manusia yang sesungguhnya banyak tak bisa memeluk Islam. Yang membuatnya tetap memiliki Iman dan takwa, sedangkan tak sedikit manusia Islam tapi tercerabut keimanan dan ketakwaannya.
Ada nikmat besar dari Alloh berupa masih bersambungnya hidup kita hingga hari ini. Sehingga kita punya kesempatan menambah amal sekaligus memperbaiki kesalahan-kesalahan. Maka apabila seorang hamba tidak bersyukur, sesungguhnya itu tanda kesombongan kepada Penciptanya. Merasa bisa hidup, bisa mendengar, bisa melihat karena kemampuan dan kehendak dari dirinya sendiri. Naudzubillah

Morning Afirmation
Tidakkah juga mengagumkan, betapa luar biasanya Nabi SAW yang mengajarkan kita doa-doa syukur pada kondisi yang tepat, saat pikiran masik fresh, saat akan menjalani kehidupan, di pagi hari. Ya, para pakar neurology dan para motivator kesuksesan menyebutnya dengan istilah afirmasi pagi (Morning Afirmation). Menstimulasi pikiran dengan kalimat-kalimat positif. Biasanya mereka menganjurkan setiap pagi untuk mengucapkan berulang-ulang kata-kata seperti, ”saya hari ini bahagia”, ”yes, yes, yes, saya orang sukses” atau ”aha, hari ini adalah hari yang menyenangkan”.
Subhanalloh, nabi sudah mengajarkannya sejak dulu. Kurang lebih sama bahkan lebih sempurna. Ucapan syukur itu, sebagaimana doa yang diajarkan Nabi SAW diatas, jika dukhusyuki seraya dihayati maknanya akan lebih menentramkan jiwa. Kesadaran akan nikmat Alloh yang amat besar akan mendorong pikiran kita sepanjang hari menjadi manusia bahagia. Belum lagi karena bentuknya berupa do’a dan keutamaan doa tersebut sudah dijamin oleh Rosululloh, maka pasti kita akan memperoleh banyak rahmat dari Alloh (lihat rubrik fadhilah Amal,pen).
Saudaraku, dengan bersyukur, persoalan-persoalan hidup seketika terbungkus dalam kotak yang hanya bisa dilihat dengan kacamata kearifan dan kebijaksanaan. Sejak mata ini terbuka dari tidur, seharusnya kita bercepat-cepat mengisi hati dengan syukur. Mendahuluinya sebelum urusan-urusan dunia menghampiri hati kita.
Sungguh indah apa yang digambarkan oleh Syaikh Abdurrahman Al-Sa’di tentang peri hidup orang-orang ahli syukur, ”Orang-orang yang bersyukur adalah orang yang baik jiwanya, lapang dadanya, tajam matanya, hatinya penuh dengan pujian kepada Alloh dan pengakuan akan nikmat-Nya, merasa senang dengan kemuliaannya, gembira dengan kebaikannya, serta lisannya selalu basah pada setiap waktu dengan bersyukur dan berdzikir kepada Alloh. Itulah dasar kehidupan yang baik, yang memberi kenikmatan dan kelezatan pada ruh, hatinya dalam setiap waktu bertambah terang, keinginan dan harapannya pada setiap waktu adalah mendapatkan karunia Alloh (Al-Riyadh Al-Nadharah)
Subhanalloh…
Untuk kesempurnaan syukur, maka sebagaimana syahadat, syukur membutuhkan pengikraran lewat lisan, peneguhan dengan hati dan pembuktian lewat perbuatan. Tak cukup hanya lisan saja. Tak bisa dikatakan ahli syukur, orang yang lisannya lancar mengucap hamdalah tapi maksiatnya tiap saat makin bertambah.
Di suatu malam yang dini, mari kita menjenguk Nabi SAW. Di kediaman penuh barokah itu, sepi tak terisi karena tidur, melainkan berdiri diamnya seorang hamba paling mulia karena rasa tawadhu’ dan tafakur. Setiap malam beliau melaksanakan Qiyamullail. Dalam sholatnya, sering beliau menitikkan air mata hingga kedua mata beliau yang indah menjadi sembab. Kedua telapak kakinya menjadi bengkak karena panjangnya sholat beliau. Padahal beliau adalah hamba yang diampuni dosanya dan Surga menjadi jaminan untuknya. Ketika Bilal mengunjungi di suatu saat jelang Subuh dan bertanya kepada beliau tentang perilaku yang menurutnya bersusah-susah itu, beliau menyampaikan alasannya sementara air mata masih membasahi kedua mata beliau ”Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur, Bilal”
Saudaraku,Nabi SAW mengajarkan satu cara bersyukur ketika memasuki hari. Yang pada prinsipnya memanfaatkan segala nikmat berupa kesehatan, waktu luang, kaki yang bisa berdiri, mata yang bisa melihat, lisan yang bisa berucap untuk melakukan ketaatan kepada-Nya. Tahajjud diawal pagi.
Ibnu Qayyim mengungkapkan lebih jelas tentang syukur dalam lima prinsip, dimana setiap prinsip saling berkaitan dan tak bisa dihilangkan. Menurut beliau syukur itu harus dicelupi oleh rasa dan sikap, Pertama, ketundukan kepada Alloh, kedua, kecintaan kepada-Nya, ketiga, pengakuan atas nikmat-nikmat-Nya, keempat, pujian kepada-Nya, dan kelima, tidak menggunakan nikmat-nikmat tersebut (misalkan anggota badan atau harta) kepada hal-hal yang dibenci-Nya.
Maka saudaraku, untuk pagi besok jangan lupa bersyukur. Bacalah doa-doa pagi hari itu dengan hati yang benar-benar dipenuhi dengan syukur. Dengan mata yang tak melihat kecuali semua adalah nikmat-Nya. Ajaklah hati merasakan lima citarasa dari pesan Ibnu Qayyim tadi berupa ketundukan, cinta, pengakuan nikmat, pujian dan ikrar setia kepada-Nya, beriring bersama dengan kalimat doa yang saudaraku ucapkan.
Setiap usai dua rokaat Subuh, bertasbihlah, hingga jiwa kita merasa layak menyambut hari ini dengan cerah, bersama cerahnya matahari yang mulai menyapa dari arah timur. Selamat menjadi pribadi bahagia, masuki hari kita dengan ucapan syukur…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar