Sabtu, 26 September 2009

Jujurlah, Benarkah Ini Rahmat?

Oleh : Bambang Heri/Nurul Hayat/Nuansa Qolbu

Suatu ketika khalifah Umar bin Khattab bersama seorang pelayannya memeriksa unta-unta hasil zakat. Unta-unta dari zakat warga Madinah dan sekitarnya itu dikumpulkan di sebuah tempat untuk kemudian dibagikan lagi kepada para mustahik. Ketika pelayannya mendapati Unta hasil zakat itu banyak yang berasal dari unta-unta unggul nan mahal harganya, sang pelayan secara spontan berdecak kagum. Lantas ia mengucapkan firman Alloh, Katakanlah: “Dengan kurnia Alloh dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Alloh dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus : 58)
Umar yang mendengarnya wak tu itu bersungut. Seketika sang Khalifah membantah, ”kamu dusta, hai musuh Alloh!”, katanya emosi ”Duduk perkara yang sebenarnya bukanlah seperti yang engkau katakan. Tahukah kamu apakah rahmat Alloh itu? Rahmat Alloh itu berarti engkau istiqomah dalam menunaikan perintah Alloh dan tetap beramal sesuai petunjuk Alloh sampai engkau bersua dengan-Nya”
Orang-orang yang bergerak dalam dunia penghimpunan Zakat, semacam NH begini, patut merenungi ucapan Umar tersebut. Penting untuk memaknai sebuah keberkahan atau rahmat dalam definisi sebagaimana yang dikatakan Umar. Barokah, tak berhenti diukur dari seberapa banyak zakat atau sedekah ummat yang bisa dikumpulkan. Semakin banyak zakat dan sedekah yang diterima semakin barokah, belum tentu.
Ukuran yang benar, menurut Umar, bukanlah dari seberapa banyak nikmat yang diterima. Melainkan apakah orang-orang yang ada didalamnya bisa istiqomah dalam menunaikan perintah Alloh. Apakah tambah hari, kepribadiannya tambah baik. Keimanan dan amal shalihnya makin membanggakan. Makin banyak nikmat makin tawadhu’. Bila demikian, maka layaklah kita bergembira. Karena berarti kita sedang mendapat rahmat Alloh berupa kemudahan beramal. Sebaliknya bila tidak, maka bertambahnya pendapatan ”unta-unta zakat” itu bisa menjadi sesuatu yang menipu bagi kita. Merasa dirahmati padahal belum.
Kepada urusan ”unta-unta zakat”, yang sejatinya bukan hak milik pengelola zakat, Umar memberikan pelajaran keras. Jangan kepedean merasa dekat dan dirahmati Alloh, begitu kira-kira. Itu dengan unta zakat. Apalagi dengan ”unta-unta” milik pribadi, rumah besar pribadi, harta pribadi, yang terkadang dengan nikmat-nikmat itu banyak yang tertipu lalu mengatakan, ”ini rahmat Alloh yang diberikan kepada kami”.
Terkadang kita seperti pelayan Umar itu. Lantaran banyaknya nikmat yang dimiliki, kemudian merasa mendapat rahmat, merasa dekat, merasa dicintai oleh Alloh. Padahal, sekali lagi itu masih nikmat, bukan rahmat. Padahal nikmat bisa terbungkus rahmat, bisa juga terbungkus laknat. Siapa yang berani mengatakan bahwa harta hasil korupsi itu adalah nikmat yang terbungkus rahmat?
Bagaimana bisa mengaku mendapat rahmat, sedangkan kualitas amal dimata Alloh makin hari makin rendah. Ketaatan kita kepada Alloh tak membuat kita beranjak mendekat kepada-Nya lantaran diseret mundur lagi oleh dosa dan kemaksiatan. Atau juga karena ketaatan itu dilakukan tanpa keikhlasan.
Kaca yang dijadikan cermin tidak sempurna. Karena imbas pola pikir materialistis, akhirnya kebijakan Tuhan-pun diinterpretasikan dengan materi pula. Ketika mendapatkan mobil, bonus uang yang tinggi, tiket liburan keluar negeri, anak-anak yang sukses meniti karir di panggung hiburan, dianggap sebuah kasih sayang dan rahmat dari-Nya. Seolah-olah menyamakan cara mengapresiasinya Alloh dengan cara mengapresiasinya bos-bos pebisnis. Dengan materi, dengan uang, dengan kemewahan-kemewahan yang menggiurkan.
Inilah kebanggaan yang tidak jelas. Klaim yang berlebihan. Tak ada yang memberi tapi merasa menerima. Akhirnya karena merasa telah ”mencium bau Surga”, lagaknya sudah seperti ahli Surga. Terhadap ancaman neraka, seperti salah alamat saja bila ditujukan kepadanya. Setan begitu mudah meniupkan tipu daya. Tanpa disadari mereka diserang penyakit Ujub (merasa banyak amal) dan sombong (merendahkan orang lain). Teringat saya kepada firman Alloh kepada orang-orang yang sok pede, merasa suci dan dirahmati itu, ”…maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS. An-Najm : 32)
Saudaraku,
Dari Umar kita belajar, bahwa rahmat berbeda dengan nikmat. Nikmat adalah kemampuan kita dalam memiliki. Sedangkan Rahmat merupakan kemampuan kita dalam memberi. Memberi apa? Kepada Alloh kita memberikan ketaatan dan ketakwaan yang sempurna. Kepada manusia kita memberi pertolongan dan akhlak yang terbaik. Bila keduanya sudah optimal, saat itulah kita layak merasa gembira. “Dengan kurnia Alloh dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira..” (QS. Yunus : 58)
Maka terhadap nikmat-nikmat Alloh yang ada di tangan kita itu, tak seharusnya menurunkan amal sholih kita. Membuat kita terbuai. Pemuliaan dan penghormatan berlebihan masyarakat sebab kita banyak harta, jangan sampai justru mencelakakan kita.
Bukan tak boleh bersyukur. Hanyasanya jangan sampai nikmat itu membuat amal sholeh kita menjadi kendur. Nikmat yang ada di tangan seharusnya mengantarkan kita pada rahmat. Dan ketahuilah,bahwa rahmat tidak ada kecuali pada mereka yang mau bersungguh-sungguh melakukan ketakwaan. ”Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.”(QS. Al-A’raff : 156)
Rahmat bersama jiwa yang bertakwa. Berarti rahmat tak mesti hubungannya dengan banyaknya harta. Tak selalu rahmat terbungkus nikmat. Justru kadang rahmat sering datang bersama dengan ujian. Rahmat bisa jadi ada pada anak yang sakit. Barangkali juga Rahmat ada pada gaji yang tidak cukup, orang terdekat yang meninggal, musibah kecelakaan, pada sholat dhuha dua rakaat, pada sedekah seribu rupiah, atau pada hal-hal kecil yang karenanya membuat kita makin dekat dengan Alloh.
Maka, siapapun dan dimanapun dia, kaya atau miskin, bergelar tokoh agama atau tidak, sesungguhnya semua orang berada di jarak yang dekat dengan rahmat Alloh. Dan karenanya, semua berhak dan bisa bahagia. Asalkan satu hal ini wajib dipegang, yang menjadi tujuannya adalah turunnya rahmat (kemampuan memberi). Dan bukan melulu nikmat (apa yang diterima). Wallohu ‘Alam Bisshowab..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar