Sabtu, 26 September 2009

Setelah 2 Umar, Adakah yang ke-3?

Oleh : Bambang Heri/Nurul Hayat/Nuansa Qolbu

Madinah dan sekitar dilanda musim panas. Terik Mataharinya seakan memecahkan ubun. Di satu siang yang amat panas itu, terlihat seseorang menggiring dua ekor unta menuju luar kota Madinah. Sendirian, tak ada siapa-siapa. Dari kejauhan Utsman Bin Affan di sebuah tempat berteduh menyaksikan orang tersebut dengan penuh heran. “Ada apa dengannya? Kenapa dia tidak menetap di Madinah sampai panas reda, lalu baru keluar?” gumam Utsman.
Lantas Utsman mendekati salah seorang budaknya dan menyuruhnya, “Coba lihat, siapa gerangan orang itu?”

Budak itupun mendekati seseorang yang berselimutkan selendang menggiring dua ekor Unta itu. Tergopoh sang budak mengejar orang bertudung kepala itu. Dan sang budakpun terperanjat, ketika yang didapatinya orang tersebut ternyata adalah Amirul Mukminin, Umar Ibnu Al-Khattab. Segera dilaporkannya hal itu kepada tuannya Utsman bin Affan.

Sahabat Utsman terkaget pula mendengar laporan sang Budak. Saat itu, di luar figurnya sebagai sahabat kecintaan nabi, Umar bin Khattab adalah pemimpin tertinggi ummat Islam, khalifah kedua sepeninggal sayyidina Abu Bakar. Sekelas Raja atau setingkat presiden di zaman kita. Maka Utsman melongokkan kepalanya di pintu, berusaha menyapa sang Amirul Mukminin, tak tega ia menyaksikan sahabat sekaligus khalifahnya dalam keadaan seperti itu.

Angis panas berhembus kencang, sempat saja menampar-nampar wajah Utsman RA. Dia menarik lagi kepalanya. Utsmanpun memaksakan diri keluar dari tempat berteduhnya. Mencoba mendekati sang Khalifah. Sambil tergopoh, dari kejauhan, dengan suara keras dia berteriak, “Apa yang membuatmu keluar di saat seperti ini?!”
“Dua ekor unta zakat tertinggal. Unta-unta yang lain sudah dibawa pergi. Aku ingin mengantarkan keduanya ke tempat penjagaannya. Aku khawatir jika tidak kuantarkan kedua unta ini akan hilang, lalu aku dimintai pertanggungjawaban oleh Alloh” Jawab sang Khalifah.
“Wahai Amirul Mukminin mampirlah sejenak untuk minum dan berteduh. Biar kami yang mengantarkan kedua ekor unta itu,” Seru Utsman.
“Kembalilah ke tempatmu berteduh, wahai Utsman” Tukas Umar.
Utsman kembali dengan putus asa, sekaligus terpesona. Kepada orang-orang yang ada disitu Usman berkata, “Barangsiapa ingin melihat seorang Al-Qawi Al-Amin (yang kuat dan terpercaya) maka lihatlah orang itu.”

Begitulah Ibnu Atsir dalam Usud Al-Ghabah menceritakan satu fragmen kisah Amirul Mukminin Umar bin Khottob. Di dalam Manaqib Umar, Ibnul Jauzi menuliskan pula. Bahwa, khalifah Ali bin Abi Thalib mengatakan, Aku pernah menyaksikan Umar bin Khattab berada di atas pelana kuda yang berlari kencang. Aku berseru, “wahai Amirul Mukminin hendak kemana?”
Dia menjawab, “seekor unta dari kawanan unta zakat terlepas, aku mencarinya!”
Maka kukatakan, “Sungguh, engkau telah membuat rendah para khalifah setelahmu!”
“jangan mengolok-ngolokku, wahai Abu Hasan!” katanya, tak merasa layak sang khalifah dipuji seperti itu. Lantas Umar berkata “Demi (Dzat) yang mengutus Muhammad dengan kenabian, andai saja seekor anak kambing hilang di tepi sungai Eufrat, niscaya Umar akan dimintai pertanggungjawaban pada hari Kiamat”.

Begitulah Amirul Mukminin Umar, peri hidup yang dijalaninya membuat pemimpin-pemimpin sesudahnya kesusahan untuk menyamai kualitasnya. Mari kita Melintas ke episode sejarah lainnya. 87 tahun setelah sang Amirul Mukminin wafat. Seorang Umar yang lain, Umar bin Abdul Azis.
Mengenai kemuliaan pribadi Umar II ini, cukuplah kita dibuat takjub dari kisah yang sangat sering kita dengar “Umar dan Lilin milik Negara”. Bagaimana karena meeting yang bukan urusan rakyat, lilin yang dibeli dari uang rakyat dimatikannya, dan akhirnya pembicaraan dilakukan dalam keadaan bergelap-gelap gulita”. Subhanalloh..

Di jelang musim pemilihan pemimpin saat ini, patutlah kita munculkan kembali sosok-sosok pemimpin yang kehidupannya dicatat dengan tinta emas oleh sejarah itu. Atas kekuatan amanah dan kesadaran dirinya sebagai seorang pemimpin.

Mudah-mudahan tak menjadi lagu lama atau nasehat basi, kalau kita senantiasa meminta para calon pemimpin kita itu mengaca kepada pemimpin-pemimpin Islam di zaman keemasan, seperti dua Umar di atas. Sudahkah mentalnya sekuat mental beliau-beliau radhiyallahu’anhu?. Apakah amanah adalah kata yang sudah digigit kuat-kuat dengan gigi gerahamnya? Adakah diantara poster-poster dijalanan itu yang nampak semangat akhiratnya?. Barangkali, komentar sayyidina Utsman terhadap sikap Umar yang berpanas-panas demi menjalankan Amanah tadi di atas sedikit saya tambahi menjadi seperti ini, “Barangsiapa mau menjadi Caleg, Bupati atau Presiden yang selamat dunia akhirat, ingin belajar bab Al-Qawi Al-Amin (berjiwa kuat dan terpercaya), maka belajarlah ke orang itu, Umar bin Khattab!”

Ya sungguh, kalau mau menyelam merenungi kisah kepemimpinan dua Umar, maka sebagaimana imam Ali, kita tak akan berat untuk berkata, sungguh berliau berdua Radhiyallahu’anhu telah membuat rendah para Raja, Presiden, Gubernur, Bupati dan pemimpin-pemimpin rakyat sesudahnya. Menjadi tak ada apa-apanya. Bahkan malu, untuk sekedar mengiklankan diri minta dipilih sebagai pemimpin.

Karena satu lagi, dari Umar bin Abdul Azis, beliau memberi pelajaran tambahan buat kita. Dikisahkan ketika suatu saat ia sedang menjabat kekuasaannya, istrinya, Fatimah mendapati diri Umar sedang menangis di kamarnya. Fatimah pun menanyakan apa yang sedang terjadi pada diri suaminya. Lalu Umar menjawab, “Ya Fatimah, saya telah dijadikan penguasa atas kaum muslimin dan orang asing dan saya memikirkan nasib kaum miskin yang sedang tertimpa kelaparan, kaum telanjang dan sengsara, kaum tertindas yang sedang mengalami cobaan berat, kaum tak dikenal dalam penjara, orang-orang tua yang patut dihormati, orang yang mempunyai keluarga besar namun penghasilannya sedikit, serta orang-orang dalam keadaan serupa di negara-negara di dunia dan provinsi-provinsi yang jauh. Saya merasa bahwa Tuhanku akan bertanya tentang mereka pada Hari Berbangkit dan saya takut bahwa pembelaan diri yang bagaimana pun tidak akan berguna bagi saya. Lalu saya menangis.”

Subhanalloh!, Adakah saat ini pemimpin seperti beliau?. Mudah-mudahan ada, walaupun masih “tersimpan” rapi di sebuah tempat dan menjadi rahasia kapan dan lewat jalan apa Alloh menghadirkannya untuk kita.
Dalam jeda ke depan serta dalam konteks aksi yang lebih nyata, pelajaran tentang “Amanah” dari dua Umar radhiyallahuanhu ini bukanlah untuk membuat kita mengangkat telunjuk ke wajah orang lain. Apalagi kalau ujung-ujungnya kita sampai menyalahkan, menghujat, melecehkan, bahkan sampai menghakimi.

Akan lebih bermanfaat apabila menjadi renungan buat kita sendiri. Karena bagaimanapun, dalam satu ruang yang diberikan Alloh dalam hidup kita, besar atau kecil, disitu ada pesan keamanahan yang juga harus kita lakukan. Hatta misalnya, sekedar tidak membawa bolpen milik kantor ke rumah kita. Wallohu ‘A’lam Bisshowab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar