Sabtu, 26 September 2009

Shodaqoh Progressif

Oleh : Muhammad Amin/Nurul Hayat/Cermin

Semua mengetahui bahwa taraf kesejahteraan ekonomi ummat Islam boleh dibilang tertinggal di banding ummat-ummat yang lain. Kemiskinan dan keterbelakangan, mayoritas ummat Islam. Aset ekonomi terbesar, dikuasai minoritas anak bangsa diluar Islam. Keadaan ini tentu sebagiannya kurang menguntungkan. Sebagaimana pisau, kalau dipegang ibu rumah tangga untuk keperluan masak, tentu sangat bermanfaat. Tapi jika di tangan penjahat, pisau bisa mendatangkan bencana. Seperti itu pula aset ekonomi. Sebagiannya bisa digunakan untuk menciptakan berbagai sarana kemaksiatan yang melunturkan iman dan akidah ummat Islam. Meski mereka mungkin tidak ada niatan untuk hal-hal yang seperti itu. Bagi mereka yang penting perputaran usaha dan kekayaan.
Untuk mengejar ketertinggalan ekonomi, bukan perkara mudah bagi ummat Islam. Kita kalah semuanya. Kalah penguasaan ilmu, teknologi, modal, keterampilan dan jaringan. Belum lagi percepatan pertambahan penguasaan ekonomi kelompok kaya, bisa berjalan dalam hitungan deret ukur (1,2,4,8,12 dst). Sementara ummat Islam dengan aset terbatas, pertambahan pengusaan ekonomi bisa hanya sebatas deret hitung (1,2,4,5,6 dst). Kalau itu terjadi maka dari waktu ke waktu penguasaan aset ekonomi dipastikan semakin senjang. Karena itu meski ditemukan jalan pintas agar hal sebaliknya yang terjadi. Dari waktu ke waktu jarak itu bisa semakin sempit.
Pertanyannya, ” Apa ada jalan pintas yang bisa menjadi resep ampuh. Bukan resep yang bersifat coba-coba?” Dengan perhitungan matematika dan rasional manusia, rasanya sesuatu yang utopia. Setidaknya komitmen keummatan saat kurang mendukung. Ummat Islam disadari atau tidak tersegmentasi.
Kalau secara kolektivitas tidak mungkin dilakukan, maka secara pribadi dan kelompok, ummat Islam bisa menerobos kebuntuan kesenjangan ekonomi. Itupun harus dengan usaha plus. Usaha yang tidak hanya mengandalkan ikhtiar manusiawi semata. Kalau hanya mengandalkan usaha manusiawi, akan selalu kalah. Ibarat lomba lari, ummat Islam kalah start. Ummat-ummat yang lain sudah berlari sangat jauh.
Dalam konteks ikhtiar plus itulah judul artikel ini, shodaqoh progresif, menemukan landasannya. Kita tahu bahwa orang-orang yang membelanjakan harta dijalan Alloh dijanjikan akan mendapatkan balasan hingga tujuh ratus kali lipat.”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Alloh melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS : Al Baqoroh (2) : 261).
Mungkin saja kebanyakan diantara ummat ini sudah sering mendengar dan membaca firman Alloh diatas. Tapi berapa persen diantaranya yang menerapkan secara kreatif. Ya bershodaqoh secara kreatif. Selama ini kita mengenal shodaqoh dilakukan setelah uang di tangan. Artinya setelah ada kelebihan rezeki baru kita mengeluarkan shodaqoh. Yang demikian itu cara bershodaqoh konvensional. Shodaqoh yang sudah jamak atau umum dilakukan.
Ada cara lain yang bisa digunakan oleh siapapun yang menghendaki perbaikan ekonomi secara signifikan. Yaitu bershodaqoh secara progresif. Shodaqoh yang dikeluarkan tidak harus menunggu rezeki lapang. Bahkan bershodaqoh ketika rezeki belum jelas ditangan sekalipun. Kalau kita jeli ada tuntunannya dalam Al Qur’an,” menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,…. Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS : Ali Imron (3) : 134).
Shodaqoh konvensional dilakukan dikala lapang rezeki. Sedang bershodaqoh secara progresif dilakukan justru dalam keadaan sempit. Wahai orang-orang Islam yang saat ini berprofesi sebagai pedagang, pebisnis, pemilik usaha dan semacamnya. Jika anda ingin mendapatkan keajaiban dari perkembangan usaha anda, maka bershodakohlah secara progresif.
Implementasinya seperti berikut ini. Seseorang berdagang pesawat televisi misalnya. Niatkan dulu bahwa dari setiap penjualan pesawat televisi akan dishodaqohkan Rp 50.000 misalnya. Begitu stok barang datang, katakanlah 100 pesawat televisi. Maka saat itu juga, di saat televisi belum satupun terjual keluarkan shodaqoh sejumlah Rp 50.000 x 100 buah = Rp 5.000.000. Itulah bentuk shodaqoh progresif. Bershodaqoh diawal, disaat masih dalam keadaan sempit (barang belum terjual).
Siapapun yang bershodaqoh dengan cara demikian yang dilandasi keimanan, rasakan dan buktikan keajaibannya terhadap perkembangan usaha jenis apapun. Alloh tidak pernah menyalahi janji. Janji Alloh selalu benar adanya. ” Hai manusia, sesungguhnya janji Alloh adalah benar” (QS : Faathir (35) : 5). Siapapun yang bershodaqoh dikala sempit, maka bagaimana mungkin Alloh akan menyempitkan rezekinya. Bukankah Alloh menyukai orang-orang yang berbuat keajikan?
Saudaraku, berapa banyak diantara kita yang selalu dibayang-bayangi kesulitan usaha. Usaha sulit berkembang maju. Berbagai usaha lahiriyah telah dilakukan, namun tidak juga tampak hasil yang menggembirakan. Kalau itu yang dirasakan, maka saatnya dengan ketetapan hati dan keimanan, bershodaqohlah atas usaha secara progresif sebagaimana digambarkan diatas. Maunah atau pertolongan langsung dari Alloh, mudah-mudahan segera akan menyertai usaha kita. Alloh Maha Penolong. Alloh Maha Kaya. Alloh Maha Pemberi. Jika Alloh yang Maha Kaya memberikan pertolongan-nya, maka tidak akan satu makhlukpun yang bisa menghalangi kesuksesan usaha kita. Kompetitor atau apapun namanya tidak akan mampu menghalangi pemberian Alloh kepada hamba yang dikasihi-Nya.
Saudaraku, mungkin tidak setiap orang mampu dengan mudah bershodaqoh secara progresif. Butuh kemampuan dan latihan mengendalikan hati dan dan pikiran. Tapi coba renungkan. Jika kita berat untuk bershodaqoh progresif (bershodaqoh dikala sempit), adakah jaminan bahwa dengan mengerahkan segenap ikhtiar dan akal pikiran semata usaha pasti berkembang? Saya kira tidak mesti. Tapi kalau kita berketetapan hati bershodaqoh secara progresif, maka itu artinya kita mengundang pertolongan Alloh secara langsung. Tidakkah kita ingin ditotong oleh Alloh secara langsung.
Saudaraku, kini waktunya kita berkata kepada diri sendiri. ” Sudah saatnya aku menerapkan shodaqoh progresif atas usahaku.” Setelah diri menerapkan, tularkan kepada yang lain agar menerapkan hal sama. Mari jadikan ”shodaqoh progresif” sebagai gerakan bersama agar kebangkitan ekonomi umat benar-benar terlihat nyata. Wallohu a’lam bhissowab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar