Selasa, 13 Oktober 2009

Konferensi Islam di UK: Tawarkan Islam Sebagai Solusi

Amika Wardana, University of Essex, UK
www.muhammadiyah.or.id
Social List Rss

Konferensi Islam ke-3 telah digelar oleh Islamic Society, sebuah lembaga mahasiswa Muslim di University of Essex. Kali ini tema yang diusung adalah ”Islam Beyond the Veil”, menawarkan Islam sebagai solusi. Dua konferensi sebelumnya, pada 2008 bertema ”A Journey to Islamic Values” dan pada 2007 mengambil tema ”Islam as a Moderate Religion”.

Konferensi menampilkan lima pembicara, empat pembicara dari British Muslim dan seorang pembicara lain adalah ahli psikologi pendidikan dari Kerajaan Saudi Arabia. Sebuah pertanyaan dicari jawabannya dalam konferensi itu: apakah Islam betul-betul memberikan solusi untuk berbagai masalah dalam kehidupan masyarakat Barat sekarang ini. Disadari atau tidak, setiap Muslim baik secara individu maupun sebagai sebuah komunitas, adalah bagian dari kompleksitas dunia saat ini.

Untuk terlibat aktif menyelesaikan masalah dunia ini, bukan saatnya lagi untuk menerapkan strategi konfrontasi, membuat perbedaan yang tidak tersatukan antara Islam dan Barat yang tidak islami. Model Clash of Civilisation yang digunakan oleh mantan Presiden George W. Bush dan juga Osama Bin Laden adalah bukan cara yang tepat untuk menghadirkan kedamaian di bumi ini. Cara berpikir semacam ini hanya akan menciptakan kehancuran dan pertentangan yang tidak akan pernah terselesaikan dalam kehidupan manusia.

Komunitas Muslim di Indonesia yang mayoritas, mungkin perlu mengambil pelajaran dari komunitas-komunitas Muslim yang minoritas di Eropa. Muslim harus mampu menampilkan Islam sebagai nilai lebih dalam kehidupan pribadi dan masyarakatnya, baik itu ketika menjadi kelompok mayoritas maupun minoritas.

Ketua Islamic Society University of Essex Abdullah Al-sheddy mengatakan, konferensi dengan polemik yang disampaikan sejarahwan Bernard Lewis, yang menempatkan Islam bukan saja sebagai agama tapi juga sebagai way of life (pandangan hidup) berkembang dalam keseluruhan materi konferensi tahun ini yang dihadiri lebih dari 300 undangan yang separuhnya adalah warga Inggris.

British Muslim Abdul Raheem Green sebagai pembicara pertama berpendapat, pernyataan Islam sebagai solusi kehidupan manusia modern masih tampak sebagai slogan belaka. Dibutuhkan kerja keras dari kalangan muslim untuk mewujudkannya. Nilai solusi Islam juga harus lebih realistis pada beberapa masalah tertentu saja bukan untuk semua masalah, kata pria kelahiran Daar-es-Salaam Tanzania dari keluarga Agnostik-Katolik.

Menurut Abdul Green, menempatkan Islam sebagai satu-satunya solusi bagi semua masalah adalah sebuah kesalahan yang kelak bisa menjadi bomerang bagi masa depan Islam. Apabila Muslim menginginkan sikap toleran dari masyarakat Kristen-Katolik dan masyarakat pro-sekularisme di Inggris, maka Islam harus menunjukkan toleransinya kepada agama-agama yang lain.

Pembicara lain, Khola Hasan dan Dr. Yahya Al-Baheth, masing-masing membahas tentang pentingnya implementasi atau diakuinya Hukum Islam khususnya berkaitan dengan perkawinan dan warisan di Inggris dan peran penting keluarga dalam menciptakan generasi Muslim yang kuat.

Khola, penyandang master dalam bidang Perbandingan Hukum Internasional dari SOAS (School of Oriental and African Studies), mengingatkan perempuan Muslim adalah kelompok yang rentan menjadi korban tidak diakuinya Hukum Islam dalam sistem hukum di Inggris. Banyak perempuan yang pernikahannya tidak terdaftar di Civil Magistrate dan tidak mendapatkan bagian pensiun dari suaminya yang meninggal atau tidak bisa menuntut cerai karena suaminya melakukan tindak kekerasan, kata Khola Hasan.[]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar